Pages

Subscribe:

Labels

Minggu, 29 Oktober 2017

KEMERDEKAAN ADALAH KEHIDUPAN

72 tahun sudah bangsa Indonesia merayakan dan memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah sebelumnya mengalami penjajahan selama berabad-abad oleh kolonial belanda, dan beberapa tahun oleh Negara asal matahari terbit; Jepang. Jika kita ingin mencoba kilas balik detik-detik peristiwa deklarasi kemerdekaan, akan kita dapati bahwa para pemuda dari kalangan tokoh-tokoh terpelajar dan terdidiklah yang mengusulkan proklamasi kemerdekaan indonesia. Tidak kurang dari 10 orang pemuda terpelajar terlibat dalam inisiatif berbahaya ini, mereka bukan tidak mengetahui resiko dari sebuah peristiwa ini, namun karena mereka menyadari akan pentingnya sebuah kemerdekaan dan kedaulatan.
Kata Kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari kata kedaulatan, karena kemerdekaan suatu bangsa yang sebenarnya manakala bangsa itu sendiri berdaulat atas segala hal yang menjadi hak dan bagian dirinya. Apalah arti dari sebuah bangsa yang majemuk dan kaya tanpa kemerdekaan, demikian pula hal nya dengan kemajemukan bangsa, bahasa, budaya dan sebagainya tak ada artinya tanpa kedaulatan.
Kemerdekaan dan kedaulatan tak hanya terbatas pada pembahasan suatu Negara, wilayah atau pemerintahan. Kemerdekaan yang sebenarnya memiliki arti luas dalam sebuah kehidupan bagi manusia. Karena manusia itu sendiri pada hakikatnya terlahir dalam lingkaran kemerdekaan atau dengan kata lain; kebebasan. Saat allah swt. menganugerahkan pada manusia akal sebagai alat berpikir Ia sertakan pada manusia kemampuan untuk dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kemampuan inilah manusia bebas memilih antara kebaikan dan keburukan bagi dirinya, Disini pulalah manusia berdaulat atas dirinya dan atas setiap yang menjadi pilihannya. Maka kebebasan, dan kemerdekaan adalah hal tak terpisahkan dari diri manusia, karena ia merupakan hal terpenting dari sebuah kehidupan.
Sebagai sebuah gambaran akan arti Kemerdekaan yang memiliki nilai sangat penting dalam kehidupan manusia, adalah terjadi pada zaman Rosulullah SAW. saat Beliau di tahun kedelapan hijriah bersama sepuluh ribu pasukan muslimin yang bertolak dari kota Madinah menuju kota Makkah guna pembebasan kota Makkah, yang kita sebut dengan peristiwa fathu makkah. Saat itu Nabi saw mengatakan pada semua penduduk Makkah “antum thulaqo” yang bisa kita artikan sebagai “kalian saat ini merdeka”.
Kemerdekaan sebenarnya bukanlah sebuah kata-kata “merdeka” yang hanya dikatakan dan digaungkan oleh bangsa Indonesia di setiap tanggal 17 agustus di tiap tahunnya, namun kemerdekaan yang semestinya direfleksikan oleh berbagai kalangan dari mulai anak-anak hingga lansia, dan dalam berbagai hal kehidupan; baik pendidikan, ekonomi, politik, budaya, agama dan lain sebagainya.
Memaknai arti kemerdekaan dalam bidang pendidikan dapat direfleksikan dalam bentuk upaya guru menstimulus para peserta didik untuk bisa mengembangkan skill dan kemampuan mereka dalam berbagai bentuk kegiatan, sehingga setiap individu dari peserta didik dapat menemukan jati dirinya dan bakat kemampuannya yang akan digunakan dimasa depannya kelak. Selain itu Kemerdekaan pun dapat direfleksikan dalam sebuah system pembelajaran, dimana para peserta didik dapat melakukan pembelajaran secara individu, dan guru memposisikan diri mereka sebagai advisor. System pembelajaran ini disebut sebagai individualized learning yang akan menghasilkan peserta didik agar memiliki semangat untuk belajar dan memiliki jiwa kemandirian dalam menghadapi berbagai kemajuan ilmu pengetahuan. Maka dengan system pendidikan inilah setiap orang dapat tercerminkan kemerdekaannya. karena pendidikan itu sendiri pada hakikatnya adalah senjata untuk mengubah dunia demi menggapai kemerdekaan, seperti apa yang disampaikan oleh Nelson Mandela tokoh perubahan dan kemerdekaan Afrika Selatan, “education is the most powerpul weapon which you can use to change the world and get freedom”.
Memaknai Arti kemerdekaan dalam bidang ekonomi dapat direlfleksikan dalam kemandirian ekonomi, dimana warga Negara Indonesia bukan saja dapat memenuhi segala kebutuhannya melalui hasil produk yang mereka hasilkan, namun justru dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru yang hal itu dapat meningkatkan nilai produktifitas para warganya dan meningkatkan pertumbuhan nilai ekonomi suatu Negara. sehingga bangsa Indonesia tidak menjadi kaum konsumen yang pasif yang menyandarkan dirinya pada gejolak pasar global namun secara aktif dapat bersaing dengan Negara lain dalam menghadapi persaingan ekonomi global.
Dalam memaknai arti kemerdekaan dalam politik dapat direalisasikan dari indefendesi suatu bangsa untuk menentukan masa depan bangsa itu sendiri, dimana semua lapisan masyarakat dapat berpartisipasi secara sadar dan sukarela dalam membangun kemajuan bangsa dan Negara tanpa mesti diintervensi oleh pihak manapun bahkan oleh pihak luar negeri sekalipun. Keikutsertaan para lapisan masyarakat dalam menentukan nasib negaranya adalah sebagai suatu refleksi kemerdekaan yang terbentuk dalam demokrasi, dimana setiap individu berhak memiliki peran lagnsung ataupun tidak langsung menyampaikan aspirasinya untuk menggapai sebuah kemajuan dan mendapatkan keadilan.
Memaknai arti kemerdekaan dalam bidang budaya dapat direfleksikan melalui upaya pemerintah dan bangsa Indonesia dalam memelihara dan melestarikan berbagai macam kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sehingga setiap budaya dapat telestarikan secara murni oleh setiap lapisan masyarakat, tanpa harus terkontaminasi oleh penjajahan budaya Negara lain yang masuk guna merusak mental setiap bangsa, karena kebudayaan suatu bangsa pada hakikatnya adalah kekayaan terbesar yang dimiliki suatu bangsa tersebut. Maka tidak salah jika beberepa ahli antropologi mengatakan “kebudayaan suatu bangsa adalah jati dirinya, maka saat ingin menjajah suatu bangsa, maka kuasai dan rusak budayanya”. Memaknai arti kemerdekaan dalam beragama dan berkeyakinan dapat direfleksikan dalam upaya pemerintah khususnya dan masyarakat secara bebas pada umumnya dapat menjamin setiap individu bangsa Indonesia untuk menjaga keyakinan beragama mereka dan menjalankan ritual dari keyakinan mereka tanpa harus saling menyakiti dan mengganggu atau menistakan satu dengan yang lainnya. Karena keyakinan agama adalah hal mendasar dalam kehidupan yang justru akan tereflesikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, sehingga hal ini sangat memerlukan arti yang mendasar dari sebuah kata merdeka. Hal ini seperti yang dilakukan oleh rasulullah saw pada peristiwa fathu makkah, atau apa yang dilakukan oleh para khulafaurrosyidin dalam memelihara kebebesan dalam kehidupan beragama setiap individu.
Pada akhirnya, bahwa Kemerdekaan suatu bangsa atau individu manusia tidak terbatasi pada bidang tertentu saja seperti yang disampaikan oleh penulis diatas, karena pada dasarnya kemerdekaan adalah kehidupan yang merupakan hak dari setiap manusia, ia mesti dijaga, disyukuri serta diperhatikan oleh setiap manusia itu sendiri. Karena disaat setiap manusia butuh kehidupan, maka ia butuh kemerdekaan. Wallahu a’lam

Kamis, 03 Maret 2016

MENGENAL PROSES, PROSES MENGENAL

Kata proses rasanya memang tak akan pernah lepas dari ruang waktu dan tempat, karena memang proses tidak mengenal kata praktis. kata proses justru mengajarkan arti sebuah perjalanan, dan perjalanan ini mengajarkan nilai-nilai, baik kegagalan atau kesukesan bahkan kesabaran. dapat kita katakan bahwa proses ini menentukan akhir sebuah perjalanan, atau bisa kita katakan juga bahwa awal memulai menentukan akhir penentuan. 
ada sebuah istilah sebesar apa usaha mu memulai, maka sebesar itu pula kamu akan mengakhiri sesuatu, "kama bada' tum takhtaimun". bahwa saat kamu memulai sesuatu maka kamu pun akan mengakhiri sesuatu itu sesuai dengan saat kamu memulai. semboyan ini sangatlah luas mencapkup segala lini kehidupan manusia.

Saat Allah Swt yang memiliki kekuasaan sebagai maha pencipta menunjukan pada manusia akan sebuah penciptaan bumi dan langit selama 7 hari lamanya. Ia mengajarkan kita arti sebuah proses dan proses ini justru tidak menunjukan kelamahannya untuk menciptkaannya dalam sekejap, tapi justru menunjukan bahwa ada perjalanan kehidupan yang melibatkan banyak unsur, waktu dan sebagainya dalam sebuah kehidupan, yang ini semua mesti direnungkan oleh manusia sekalian. sehingga dengan proses inilah manusia dapat mengambil sebuah pelajaran untuk tidak menyepelekan sebuah ciptaan tuhan, dan dapat menghargai keberadaannya.

Nasi yang setiap hari dimakan, mengalami proses yang panjang dan banyak unsur yang terlibat dalam penciptaannya. namun sayangnya hal ini justru tak banyak disadari oleh semua orang yang memakannya dan bahkan membuangnya. semua ini terjadi karena manusia sering mengabaikan arti sebuah kata proses. dan berhenti segala sesuatunya pada kata harga. seperti hal nya manusia hanya berhenti pada kata harga 15000 untuk 1 Kg nasi. dan tidak berpikir bagaimana sebutir nasi yang mengandung dimakannya setiap hari sudah mengalami perjalanan minimal 4 bulan lamanya dalam penanaman. 

Tak bisa dipungkiri oleh manusia manapun, bahwa hidup ini merupakan bagian dari perjalanan manusia dalam mendapatkan rido tuhan, yang justru didalamnya terdapat proses lainnya. perjalanan tahapan dan proses inilah mengajarkan kita bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuan ada tahapan, terdiri dari rintangan, cobaan, kemudahan yang semuanya mengajarkan kita pada sebuah kesabaran.

Rasanya takan pernah ada seorang yang sukses sekelas Bill Gates pun yang mendapatkan kesuksesan tanpa proses kegagalan. bahkan salah satu komisaris perusahaan Astra Indonesia mengatakan : "jika anak muda saat ini tak bisa menghargai arti sebuah proses, maka ia tak akan bisa menghargai arti sebuah kesuksesan yang didapatkan".

Sabtu, 27 Februari 2016

BERGERAKLAH DAN MENGGERAKKAN !!

"Bergeraklah dan Menggerakkan" Ungkapan tersebut sekilas terlihat sederhana, tapi jika kita lebih mendalami nya dan merenungkannya lebih jauh akan kita temukan makna yang besar. 


bergerak artinya pindahnya sesuatu dari satu tempat ke tempat lain dalam dua dimensi waktu. sebaliknya, diam adalah menetapnya sesuatu dalam 2 dimensi waktu pada satu tempat. pergerakan tidak terbatas pada ruang dan waktu, tapi pada segala sisi dan ruang kehidupan. pergerakan ini menandakan adanya sebuah kehidupan. dan sudah semestinya bahwa hidup mesti menggerakkan.

Bumi berotasi dan berevolusi menandakan adanya sebuah kehidupan, jam yang terus berdetak menandakan adanya kehidupan, mahluk hidup yang berkembang biak tanda sebuah kehidupan, bahkan bayi yang ada dalam janin mesti bergerak sebagai tanda adanya sebuah kehidupan. karena air yang bersih tidak pernah diam dalam satu tempat pada waktu yang lama, maka
manusia yang hidupnya baik tandanya adanya pergerakan.

namun manusia yang benar-benar hidup tak berhenti hanya pada kata bergerak individunya, tapi mesti menggerakkan (hal lain). saat manusia hanya bisa bergerak untuk dirinya saja, maka ia bersifat pasif, dengan kata lain ia hanya menghidupi kecukupan dirinya, memenuhi kebutuhannya dan sebatas menunaikan kewajiban dirinya. 

Islam selalu menekankan bahwa seorang muslim tak hanya berhenti pada satu titik hanya bergerak saja, tapi mesti bisa menggerakkan orang lain. karena inilah bukti bahwa dirinya bermanfaat untuk orang lain. filosofi air yang bergerak, selalu turun dari dataran tinggi menuju dataran rendah, tapi air yang menggerakkan tak hanya menurunkan dirinya dari dataran rendah, tapi bisa menghasilkan unsur lainnya, salah satunya seperti menghasilkan energi listrik. maka air yang baik untuk ibadah, bukan air yang air suci secara zat nya saja, tapi ia pun dapat mensucikan. bukan yang berwarna atau harum, tapi yang murni serta suci. begitu pula dengan manusia, bukan dengan jabatan dan ketenaran (harumnya nama) agar dapat bermanfaat, karena tak ada yang bisa menghantarkan dirinya bermanfaat selain kesucian diri (hatinya) dan kemurnian serta ketulusan hatinya.

Saat adanya sebuah pergerakan yang timbul dari adanya bergerak dan menggerakkan maka secara otomatis akan terjadi adanya sebuah gesekan. gesekan ini pada dasarnya adalah bukti adanya gerak. ini adalah bagian dari sunnatullah. namun tak sedikit orang yang hanya berhenti mempermasalahkan adanya pergerakan yang menghasilkan gesekan dan lupa dengan tujuan akhir dari sebuah pergerakan, padahal sebenarnya gesekanlah tanda dari sebuah pergerakan. 

Dalam organisasi yang bergerak dan menggerakkan gesekan selalu ada, dan hal ini adalah biasa. namun berapa banyak anggota dari organisasi mempermaslahkan adanya gesekan ini. maka dalam dunia pendidikan hal ini bisa dikatakan sebagai dinamika pendidikan organisasi. manusia yang hidup selalu dihadapkan pada satu aspek permasalahan yang ditimbulkan dari sebuah keputusan atau pilihan, hakikat permasalahan ini adalah bukti adanya sebuah pergerakan, dan pergerakan adanya bukti dari sebuah kehidupan. maka benar seperti apa yang dikatakan banyak orang bahwa masalah adalah buah dari sebuah kehidupan, orang yang hidup selalu berhadapan dengan permasalahan.

Bergerak, menggerakkan, dan permasalahan adalah buah dari kehidupan. bukankah allah swt yang menciptakan manusia beserta akalnya, juga memberikan masalah agar akalnya dapat difungsikan untuk berpikir keluar dari permasalahan?! rasanya tidak mungkin allah menciptakan hardware tanpa perangkat lunak untuk menyelesaikan sesuatu. bukankah nabi adam bergerak hati dan pikirannya untuk memakan buah dari pohon yang allah larang. hasil dari pergerakan itu adalah permasalahan dalam bentuk kesalahan. namun dari kesalahan itu, terlahirlah kata ampunan dan pengharapan untuk menjadi yang lebih baik sehingga melahirkan kata perbaikan..

wallahu a'lam..

Kamis, 25 Februari 2016

Belajar Dari Coach Carter


Ini adalah sebuah judul film yang bertemakan nuansa pendidikan, yang penuh dengan syarat nilai nilai kedisipilnan dan komitmen dalam membangaun diri demi masa depan.
carter yang merupakan seorang mantan pemain basket handal dari sebuah SMU di sebuah kota di Amerika, mampu membuktikan bahwa bermain basket bukan hanya berpikir bagaimana bermain baik dan mendapatkan poin serta memenangkan pertandingan, tapi basket dapat mengajarkan arti kesungguhan dan kedisiplinan. hal itu dapat dilihat dengan cara ia mendapatkan beasiswa pendidikan secara penuh dari universitasnya berkat permainan basket.
film ini mengajarkan banyak hal, antara lain saat carter memulai kegiatan melatih para pemain basket ini dengan sebuah kepercayaan. sederhana sekali ia hanya meminta agar antara pemain dan pelatih memanggil kata pak, atau dalam bahasa inggris dikatakan "sir". dengan hal ini satu sama lain dapat menimbulkan sebuah respek dan penghormatan. 

selanjutnya ia tak segan tuk mengeluarkan pemain satu atau dua jika mereka dinilai tidak patuh dan percaya penuh terhadap dirinya sebagai pelatih. ini menunjukan sebuah konsistensi seorang pelatih dalam menanamkan sebuah nilai. ia mesti berani mengambil resiko, dan meyakini bahwa setiap langkah dan keputusan yang diambil adalah benar. 
dalam sesi latihan perdana, ia lebih mengandalkan fisik para pemain untuk terus berlari dan bergerak, ia katakan bahwa tidak ada 1 detik pun tanpa pergerakan. hal ini tentunya menjadi sebuah kekuatan tambahan dalam diri para pemain mana kala dalam sebuah pertandingan, dimana poin mereka sama persis dengan tim lawan yang sudah kelelahan, sedangkan waktu terbatas. maka dengan kekuatan fisik mereka berusaha untuk menguasai permainan, hingga permainan pun berakhir dengan kemenangan tim carter.

dinamika latihan basket tidak berhenti disitu, carter yang tegas namun cerdas dalam melihat potensi para pemain basketnya selalu tak segan untuk memberikan sangsi latihan fisik berupa kelipatan 500 push up. hal itu terlihat saat para pemainnya mengolok-olok tim lawan saat mereka berhasil lebih unggul dalam poin. carter tak suka dengan hal sepele itu, karena pemain tangguh semestinya bisa mengalahkan permainan dengan sebuah kehormatan. sehingga menang atau kalah dengan kebanggaan.

carter pun tak berhenti hanya melatih fisik para pemain basket saja. namun ia sangat memperhatikan sisi kecerdasan dan mentalitas para pemain. ia geram sekali saat para pemain yang dia bawa menang dari pertandingan, namun berakhir dengan poya-poya dan pesta. ia memarahi dan memberikan sangsi latihan fisik 500 push up. demikian pula dengan perhatiannya terhadap sisi kecerdasan intelektualitas para pemain, ia tak mau jika para pemainnya sukses dilapangan bermain bola dengan baik, merebut bola dengan sungguh-sungguh tapi malas-malasan dikelas dan tak sungguh-sungguh didepan buku.
oleh karena itu ia pun menargetkan bahwa IPK bagi para pemain adalah 3.3, selain itu ia pun meminta laporan akademik secara rutin kepada para pengajar tentang perkembangan mereka di kelas. saat ia menemukan bahwa para pemain tidak aktif dikelas dan memiliki standar nilai yang kecil ia pun mengunci lapangan basket dan meminta para pemain tuk belajar di perpustakaan, didampingi para guru.

hari demi hari yang dilalui para pemain dengan belajar di perpus tak sebaik yang dikira oleh carter, keputusannya untuk memberhentikan permainan, latihan dan pertandingan menuai protes dari para orang tua, dan para murid SMU. permainan terhenti, kebanggaan sekolah pudar karena tim basket tidak bermain dalam berbagai pertandingan serta penguncian lapangan basket. protes dimulai dari para orang tua, hingga teror dari para anak-anak SMU,  hingga berakhir dengan diadakannya sidang oleh komite sekolah yang menuntut untuk dibukanya penguncian lapangan basket. dalam persidangan tersebut, carter menerangkan bahwa maksud dan tujuannya adalah baik, agar para pemain tidak hanya berhenti sebagai pemain bola basket di SMU saja, tapi basket pun dapat mengantarkan mereka untuk meraih masa depan, dengan cara menyeimbangkan antara sekolah dan olah raga. 

persidangan yang alot tu pun tak berakhir indah seperti kemenangan yang selalu didapatkan tim carter, para komite sekolah memutuskan agar lapangan dibuka dari penguncian. dengan langkah lesu menuju lapangan bola basket yang tak terkunci, maka ia pun mengundurkan diri dari kepelatihan tim bola basket ini.
namun ia kaget saat melihat para pemain yang ada ditengah lapangan, sedang duduk meja dan kursi perpustakaan. " mereka bisa saja memaksa kami untuk dibukanya lapangan ini, tapi mereka tak bisa memaksa kami untuk bermain, kami akan melanjutkan target kami disemester ini." itulah ucapan para pemain tim basket yang tetap setia dan percaya bahwa pelatihnya akan memberikan yang terbaik bagi masa depannya.
film ini berakhir dengan kekalahan tim basket carter di pertandingan melawan tim basket no 1 tingkat nasional, namun 6 pemain dari tim basket carter ini berhasil mendapatkan beasiswa dari 6 universitas yang berbeda.

hal ini membuktikan bahwa olah raga bukan saja mengajarkan saja arti bergerak dan menang, tapi mengajarkan banyak hal yang terkandung didalamnya. motivasi, disiplin adalah salah satu dari nilai-nilai yang diajarkan dalam olah raga, karena fisik mental dan otak mesti sejalan jika ingin meraih kesuksesan.
permainan dalam olah raga terkadang menjadi metode efektif dalam belajar di kelas.

Rabu, 24 Februari 2016

sebuah konsekwensi dari suatu pilihan

Pada awal penciptaan manusia pertama, terjadi sebuah polemik, ditunjukan adanya dialog antara allah swt dan para malaikat. polemik seperti adalah bentuk dari sebuah contoh dinamika kehidupan, dimana rencana Allah sebagai khaliq yang maha mengetahui akan semua mahluknya dipertimbangkan keputusan-Nya oleh para malaikat. hal itu tertulis dalam surat albaqoroh.

kata kholifah bukan sebuah hal yang sederhana, dalam pandangan para malaikat, terlebih lagi seorang kholifah dibumi. lepas dari sebuah latar belakang pengetahuan malaikat yang terbatas, atau adanya pengalaman. namun sikap reaktif dari para malaikat menunjukan adanya sikap kontra mereka sambil mengatakan



disini terlihat adanya sebuah nilai, yang terlahir dari sebuah keyakinan atau i'tiqod. selain kata kholifah, tapi adapula kata man yufsidu.. dan nusabbihu.. 
nilai yang dilahirkan menunjukan bahwa malaikat merupakan mahluq ciptaan, yang dimaksudkan tanpa sebuah pilihan kecuali taat kepada Allah Swt. atau disebut juga تكوينا. hal ini tentu saja berbeda dengan keberadaan jin dan manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk sebuah pilihan, yaitu syariat atau dikatakan sebagai تشريعا. 

iblis yang merupakan bagian dari jin, terbentuk sebagai mahluk yang setara dengan manusia. hal itu bisa dilihat dari bagaimana ia membangkang terhadap perintah allah swt untuk sujud kepada adam as. malah ia justru meminta penangguhan pada allah dan berjanji akan menggoda anak cucu manusia yang menyebabkannya dikeluarkan dari surga. disini pula allah mengajarkan bahwa iblis adalah mahluk yang akan menjadi musuh dari manusia yang taat pada allah.
ajaran allah tentang kedudukan iblis sebagai musuh manusia ini disebut dengan mashdar ilahi, atau kita sebut dengan sumber pengetahuan dari allah.

sebuah pertanyaan terbersit dalam diri kita, mengapa iblis hanya ingin menggoda manusia, dan tidak kepada para malaikat juga? bukankah mereka juga sama-sama yang taat pada allah swt? hal ini menunjukan bahwa malaikat bukanlah mahluk yang diciptakan sama seperti manusia dan jin yang didalamnya juga iblis. para malaikat hanya diciptakan hanya dengan 1 pilihan, yaitu taat pada Allah. sedangkan manusia dan jin diciptakan dengan 2 pilihan, taat atau membangkang.

adam dan hawa diciptakan bukan tanpa tujuan tentunya, maka tujuan inilah yang menentukan sebuah konsekwensi dari sebuah penciptaan. ketika adam dan hawa diperintahkan untuk tinggal disurga, dengan sebuah konsekuensi tidak mendekati sebuah pohon. maka dari sinilah iblis menggoda mereka dengan sebuah godaan, "bahwa tidaklah allah melarang kalian berdua makan sesuatu dari pohon itu selain agar kalian menjadi malaikat atau mahluk abadi". 
saat itu pula manusia berpikir dengan akalnya akan sebuah nilai " keabadian" yang hal ini menjadi pilihan manusia. dan berakhir dengan sebuah konsekensi terlahir dari pilihannya, terhina dan malu. hal itu disebabkan oleh mahluk yang sudah jelas menjadi musuhnya. 
cara manusia membuat kesimpulan dengan pikirannya inilah yang disebut dengan mashdar basyari, atau disebut juga sumber pengetahuan yang berasal dari akal pikir manusia yang terbatas.

bersambung..

Senin, 22 Februari 2016

pendidikan gagal - mendidik kegagalan - menggagalkan pendidikan

"didiklah anakmu sesuai dengan zamannya", ungkapan tersebut sering dinyatakan dan dikatakan sebagai himbauan kepada para pendidik terutama orang tua untuk mengajarkan cara hidup yang baik dan benar kepada anak-anaknya, dan guru kepada muridnya. kalimat "sesuai dengan zamannya" memiliki arti yang sangat luas, karena sesuai artinya cocok, cocok artinya ada keserasian. maka pendidikan yang diberikan mesti serasi, dengan alam dan pola pikir, bahkan kemampuan anak. 

setiap orang memiliki tujuan dan ambisi dari sebuah kehoidupan, dan hal itu dilatar belakangi dari apa yang ia yakini, atau dalam istilah lain adalah "al-mu'taqodat". keyakinan ini membentuk cara berpikir seseorang, dan anggapan yang membentuk sebuah nilai-nilai atau "al-qiyam". dan nilai ini lah yang membulak balikan cara kita menyikapi sesuatu terutama tujuan hidup. tujuan yang dalam istilah arab dikatakan "al-ahdaf" akan menjadi tolak ukur kita dalam bersikap. karena tujuan inilah lahirlah sebuah pemikiran akan sebuah tatanan prilaku atau ahlak/ suluk.  

pendidikan disebuah negara atau daerah terbentuk dari nilai-nilai tersebut diatas, almu'taqodat - alqiyam - alahdaf - assuluk. maka indonesia yang tumpuan atau sumber terbentuknya sebuah aturannya adalah pancasila yang mengandung nilai-nilai pokok dalam berbangsa dan bernegara, maka kemudian dijabarkan dalam UUD 45, tersebutlah didalamnya bahwa tujuan dari pendidikan Indonesia adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa". oleh karena itulah singkatnya, bahwa tatanan kehidupan bernegara di indonesia terlahir dari tujuan yang dicetuskan. 

fenomena korupsi yang merupakan bagian dari sebuah kehidupan berbangsa indonesia adalah bagian dari hasil pendidikan indonesia. dimana nilai-nilai pendidikan hanya mengandung nilai intelektualitas, bukan nilai spiritualitas. 

Minggu, 21 Februari 2016

Menepis Anggapan, Menuai Harapan



akhir-akhir ini saya sering didatangi ditelpon oleh seseorang yang ingin sekali melanjutkan studinya di luar negeri, tak lain dan tak bukan adalah murid saya. maklum karena memang ia sedang mempersiapkan administrasi kelengkapan untuk pendaftaran universitas di timur tengah. timur tengah memang merupakan tempat yang cocok untuk menimba ilmu apapun itu, terutama agama. karena di timur tengah inilah allah menurunkan para nabinya. sehingga secara lingkungan sangat mendukung untuk mempelajari agama, terlebih lagi bahasa arab yang ia merupakan bahasa agama islam, bahasa alquran dan bahasa daerah tersebut.


mimpi kuliah di timur tengah memang sudah lama saya idamkan sejak lulus pondok pesantren di gontor. universitas islam madinah adalah impian saya melanjutkan studi saat itu. tak ada universitas yang paling saya idamkan selain lembaga yang berada di kota nabi di kuburkan. bukan hanya karena keilmuannya yang menjanjikan, tapi beasiswanya yang menggiurkan, terlebih lagi bisa selalu mengunjungi makam nabi Muhammad SAW. dan umroh serta haji ke baitullah. rasanya tak ada kota yang paling dirindukan saat itu selain 2 kota suci ini.

saat masa studi kadaluarsa ijazah tingkat smu berakhir, datang masa ijazah s1. mimpi kuliah di UIM dikubur sudah, karena menurut perhitungan usia dan umur ijazah sudah tidak memungkinkan. kini harapan itu berganti menuju univesitas raja saudi. atau lebih dikenal KSU di ibu kota, Riyadh. banyak orang yang mengatakan bahwa mengambil jenjang s2 s3 di negeri orang, terutama timur tengah adalah sebuah hal yang mustahil, dikarenakan setiap kampus disana hanya akan menerima lulusan tingkat strata alumni mereka sendiri. ungkapan inilah yang selalu menjadi penghalang bagi para pencari harapan ke timur tengah. padahal tidak semua universitas memberlakukan aturan demikian. diantara universitas yang membuka harapan itu adalah KSU. universitas ini membuka jenjang s2 atau s3 untuk para pelajar non arab yang hendak melanjutkan studi dalam bidang apapun, namun persyaratan standar internasional berlaku, yakni toefl, ielts, gmat atau yang lainnya.

mengejar mimpi mendapatkan beasiswa memang memerlukan sebuah keyakinan kuat dan tekad, tentunya mesti dibarengi dengan doa yang kuat pula. tak lupa bersyukur adalah rahasia dari sebuah kesuksesan, karena bisa jadi Allah tak memberikan wujud dari mimpimu, karena kamu tak pernah belajar bagaimana menjadi seorang yang mudah bersyukur. selanjutnya hilangkan anggapan-anggapan orang lain tentang mimpi kita, hiraukan orang-orang yang mengatakan ketidak mungkinan, pemimpi sejati selalu meyakini tak ada yang tak mungkin, selama Allah menghendaki. karena segala apa yang ada didunia ini penuh misteri, bukankah Allah terlah membuktikan bahwa api yang panas tak dapat membakar nabi Ibrahim As. dan air laut tak dapat menenggelamkan Nabi Musa As. serta Burung merpati jg sarang laba-laba bisa mengelabui orang-orang quraisy dari keberadaaan nabi Muhammad SAW yang hendak dibunuh.

mimpi itu bukanlah sebuah angan-angan kosong, ia tak ubahnya adalah harapan yang selalu dinanti wujudnya. wallahu 'alam..

Antara Api & Air (1)



malam hari di negeri syam yang sunyi diselimuti hawa dingin yang menusku setiap jengkal tubuh dan tulang membuat badan sedikit tak berdaya tuk tidak berusaha mendapatkan kehangatan, walau dari balik selimut atau hangatnya dafaya si penghangat ruangan. tapi kedinginan tu tak berhenti disana, ia menjalar ke pikiran yang selalu mengirimkan sinyalnya ke perut sehingga selalu manjadikannya lapar. tak ada solusi tuk lapar selain makan, dan tak ada makanan selain memasak. maka keputusan memasak nasi adalah solusi bagi manusia indonesia yang lapar ini. terlebih lagi hari ini bagian tinggal dirumah sahabat, menemaninya yang seolah-olah kesepian
menunggu waktu kedatangan istrinya.
kali ini magiccom sebagai alat canggih menanak nasi tak didapatkan, karena memang tak ada alat yang lebih canggih serta murah selain barang indonesia, walaupun sebenarnya bukan buatan negeri seribu pulau itu. maka panci adalah jawabannya. tanpa dasar pengalaman nasi pun dimasukan beserta air ditaruh diatas api yang besar. sebuah pikiran logis mengalir bahwa api yang besar dapat dengan cepat mematangkan nasi. 30 menit sudah api membakar dan memanaskan panci, sebuah bau gosong pun menhalir ke hidung, menandakan bahwa nasi sudah jadi dan terjadi proses overheat. itulah kira-kira yang terbersit dalam benak. namun saat nasi dicicipi yang terjadi adalah nasi setengah matang dengan tingkat kegosongan 30%.

peristiwa diatas sejenak membuat sebuah keheranan, tapi juga memberikan pelajaran penting dalam hidup.
1. bahwa api bukan tugas untuk mematangkan tapi memanaskan, atau membakar.

2. dengan api yang besar bukan berarti proses menanak nasi menjadi lebih cepat, tapi justru menjadikannya overheat. bahkan bisa jadi kebakaran.

3. yang mematangkan nasi adalah proses hantaran panas dan waktu yang lama.

dalam hidup terkadang kita selalu menganggap bahwa cobaan rintangan adalah api yang membuat kita matang. bahkan sudah bukan jadi rahasia lagi, saat seseorang menggambarkan sebuah proses penggemblengan dalam dunia pendidikan diibaratkan sebuah proses pemanasan bongkahan emas yang bercampur dengan batu yang berakhir mencairkan. atau contoh lainnya sebuah proses pembentukan besi dari bibit besi yang tercampur dengan pasir. dengan bantuan panas tinggi emas atau besi akan terpisah dan menghasilkan kemurniannya.
penulis mengganggap bahwa penggemblengan hanya bersifat penyaringan atas potensi dan pembentukan jati diri. tapi kematangan tetap tidak bisa tanpa cara yang pas dan kadar yang pas. seperti halnya air dan api dalam sebuah wajan contoh memasak nasi diatas.

air dalam dunia pendidikan bagaikan ilmu dan hikmah yang terus diberikan pada peserta didik oleh para pendidik langsung maupun tidak langsung. air ini bersifat menenangkan pikiran, melembutkan hati, menumbuhkan cinta dan mimpi serta mencerahkan masa depan.
api dalam dunia pendidikan bagaikan tempaan hidup, penugasan, bersifat membakar diri yang angkuh, menempa hati yang keras, dan mendisiplinkan diri.

maka sebuah kesimpulan didapatkan, bahwa dalam dunia pendidikan air dan api tak akan lepas dari fungsinya yang saling mempengaruhi dan melengkapi.

Selasa, 02 Februari 2016

Pelajaran Dari Gua Hiro

Siang itu tak terbersit dalam pikiran atau hati untuk melangkahkan kaki lebih, tapi allah swt sang penguasa hati dan sang pengatur sekenario menjadikan hati ini melangkah tuk menuju suatu daerah bersejarah dalam islam.

Jabal nur namanya, atau diartikan gunung nur, tak diketahui siapa yang pertama kali menamai gunung ini demikian, tapi yang pasti dari gunung inilah terjadi sebuah hal yang sakral yakni turunnya wahyu dan pelantikan nabi. sebuah gunung batu dengan ketinggian yang curam, tumpukan batu menjadikannya gersang, dan sebagian membentuk sebuah gua kecil, kelak gua kecil inilah menjadi tempat nabi mengasingkan dirinya untuk beribadah pada Allah menghindari adat jahiliyah yang penuh dosa dan keserakahan.
Saat menempuh anak tangga yang dibuat menuju puncak, tak lah mudah. perlu perjuangan tinggi tuk sampai di puncaknya. gunung batu ini memang tak setara tingginya dengan gunung manapun dengan gunung gunung di indonesia atau bumi lainnya. tapi gunung yang tak sedikitpun ditumbuhi tanaman ini mampu menjadi saksi sejarah bagaimana seorang manusia istimewa dilantik oleh Allah menjadi pemimpin umat akhir zaman di usianya yang ke 40 tahun. dan dari ketinggiannya pula turun seorang manusia pilihan, ia sangat ketakutan berlari menuju rumah isterinya. bukan sebuah ketakutan yang tak beralasan, tapi tentu saja yang penuh dengan hikmah.
sembari melangkahkan kaki ke-tiap anak tangga, sebuah kekaguman selalu muncul dalam pikiran, membentuk sebuah pelajaran penting. dan beberapa pelajaran penting yang muncul dari sebuah tempat kejadian ini, antara lain :

1. Tempatnya yang menjulang tinggi berada diatas puncak, yang melelahkan bagi sipendakinya, mengartikan bahwa  perlu adanya perjuangan keras tidak hanya untuk mencapai sebuah keberhasilan tapi untuk dinyatakan layak menjadi orang pilihan. tuk menghasilkan orang luar biasa tak
2. Sikap nabi yang berdiam diri di gua hiro beribadah pada allah swt dan menghindari kemaksiatan dan keduniaan, mengartikan bahwa sosok pilihan selalu keluar dari rasa nyamannya atau ketidak nyamanannya, mencari hal yang lebih berarti, mendekatkan diri pada hal yang lebih besar, dengan mengkosongkan diri dari hal hal yang menjadikan kita terlena.
3. Amanah yang besar tak pernah diimpikan, tak pernah diinginkan, tapi tanggung jawab yang besar memang tak pernah diserahkan oleh allah kecuali pada orang yang luar biasa.
4. Ketakutan nabi mengisyaratkan ia tak pernah bermimpi akan sebuah tahta atau kedudukan terlebih lagi semua itu mengandung tanggung jawab besar. karena menjadi panutan bagi semua manusia hingga akhir zaman sungguh tak mudah.

Minggu, 07 Juli 2013

SABAR DAN BERSYUKUR

Kehidupan yang dijalani setiap manusia, tak akan luput dari namanya kesalahan. Dari sebuah kesalahan itu manusia ada yang berpikir dan mengambil pelajaran, namun ada pula yang tidak menyadari bahkan masa bodoh atas kesalahan tersebut.
Dari berbagai kesalahan itu temasuk pada golongan maksiat, dan dinamai dosa. Namun dosa yang diperbuat oleh manusia tidak akan berarti apa-apa didepan sang kholiq, jika disertai dengan mohon ampunan.
Rasulullah SAW bersabda:

كل ابن ادم خطاء، وخير الخطائين التوابون.

“Setiap anak adam pasti berbuat kesalahan dan dosa.  Dan sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah orang yang bertaubat“.
 Hadis diatas menunjukan akan kejelasan posisi manusia di dunia yang tak lepas dari dosa.  Sebuah konsekwensi dari dosa itu adanya sebuah peringatan, atau hukuman.
Maka hukuman yang Allah berikan bukan semata-mata Allah benci, melainkan sebuah peringatan dan konsekwensi dari sebuah perbuatan. Allah mengajarkan kita sebuah hukum kausalitas, yang itu semua akan dihadapi manusia didunia ini. Namun terkadang manusia lupa bahwa hukuman yang Allah berikan didunia ini melainkan adalah bentuk kasih sayang Allah dan pembelajaran dari-Nya. Ia ingin memberikan sebuah pelajaran penting bahwa siksa dunia yang tidak seberapa itu adalah akibat dari sebuah perbuatan dosa yang manusia perbuat. Sehingga harapannya ia akan cepat menyadari dan bertaubat serta kembali pada lindungan Allah swt.
Sabda Rasulullah SAW. :

إذا أراد الله بعبده خيرا عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا اريد بعبده شرا أمسك عنه بذنبه, حتى يوافي به يوم القيامة.

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka ia akan segerakan hukuman bagi hambanya di dunia ini, dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hambanya, ia akan menahan siksa atas dosanya sampai ia penuhi di hari kiamat “.
Hadis diatas menunjukan bahwa sangat tidak dapat kita pungkiri atas luasnya rahmat Allah, saat manusia berbuat dosa pada-Nya, Ia masih tetap membuka pintu taubat, atau bahkan ia tunda sampai manusia bertaubat atas segala dosanya. Namun sayang, manusia selalu saja berburuk sangka pada tuhannya. Manusia mengira bahwa apa yang ia alami dalam dunia ini adalah karena takdir tuhannya, atau bahkan manusia berkata “bahwa Allah membenciku”.
Na’udzubillah tsumma na’udzubillah, kita berlindung pada Allah atas segala dengki dan penyakit hati ini, semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjadikan kita menjadi orang yang selalu sabar dan bersyukur atas ni’mat dari-Nya, amin.

Wallahu a’lam..

Sabtu, 30 Maret 2013

EVALUASI PENDIDIKAN CARA NABI SAW


·        قال النبي: إن عظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله تعالى إذا احب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط. (الترميذي)
Nabi bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah ta’ala mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka Allah akan meridhainya, dan barangsiapa yang murka, maka Allah akan memurkainya. (H.R Atturmuddzy)[1]

من صام شهر رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه » . رواه البخاري في الصحيح
Secara tersurat, hadis tersebut menggambarkan betapa mulia dan agungnya bulan ramadhan jika dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Paling tidak, dalam hadis tersebut terdapat tiga kata  kunci yang harus senantiasa diperhatikan, yaitu imanan, ihtisaban, dan ghufiro.
Ditinjau dari perspektif bahasa, kata imanan menempati jabatan sebagai maful li ajlih, yang menunjukan pada satu keadaan, lebih jauh; ia menunjukan pada basis yang mendasari orang dalam melaksanakan puasa. Kata ihtisaban menunjukan pada prosesi yang harus dilakukan orang selama berpuasa. Kata ghufiro merupakan kata yang menunjukan pada konsekuensi logis dari dua keadaan sebelumnya.
Oleh sebab itu hal pertama yang harus diperhatikan orang yang berpuasa adalah basis atau niat melaksanakan puasa tersebut. Apakah ia melaksanakannya hanya sekedar memenuhi/menggugurkan kewajiban saja atau bahkan karena tuntutan masyarakat yang mendorongnya menjadi malu jika tidak berpuasa.
Dalam hal kedua, selama melaksanakan puasa, ia dituntut senantiasa mempertinggi kuantitas dan kualitas ibada mereka kepada Tuhan. Yang akan menjadikan terbukanya pintu hati dengan terlebih dahulu melakukan evaluasi diri. Jika prosesi puasa yang dilakukannya seperti itu, maka konsekuensi logisnya ia akan diampuni dari dosa-dosa masa lalunya.
Kalau demikian adanya, pada hakikatnya puasa yang kita jalani selam satu bulan lamanya bukan bertujuan menghapuskan dosa. Ia lebih berfungsi sebagai penyuci jiwa yang selama sebelas bulan lamanya sudah terkontaminasi berbagai macam virus. Oleh karena itu Allah menyatakan bahwa tujuan berpuasa itu bukan sebagai penebus dosa, tetapi “la’allakum tattaqun”, agar kamu sekalian bertaqwa.
Kalau demikian adanya, maka selama bulan ini manusia dituntut untuk mempertinggi kuantitas dan kualitas ibadahnya kepada Tuhan, sehingga akan mengantarkan dirinya menjadi manusia bertaqwa.
Secara tersirat, ayat 184 menuntut orang yang berpuasa agar senantiasa melakukan pengkajian terhadap Alquran dan terhadap dirinya sendiri yang akan menjadikannya tersadar kembali bahwa ia hanyalah seorang hamba yang fakir di hadapan-Nya. Ia menyadari kalau dirinya itu hanyalah sebatang ilalang di tengah bentangan alam sang pencipta. Kesadaran ini akan menjadikan dirinya terus menerus mencoba mendekatkan diri pada Allah dengan berdoa. Dalam hal ini, berdoa merupakan indikator ketawadhuana manusia pada Tuhan, yang menunjukan bahwa dirinya menyadari betul kalau ia hanyalah manusia fakir yang tidak memiliki apa-apa dihadapan-Nya.
Lebih lanjut, pada akhir Ramadhan Rasulullah menganjurkan umatnya agar melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Bahkan pada sepuluh hari terakhir inilah beliau senantiasa melakukan muhadharah dengan jibril guna mengevaluasi hapalan Alquran beliau.[2]



Dalam menjalankan misi pendidikan, untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan sahabat terhadap materi pelajaran, Nabi saw juga mengevaluasi sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi sahabat-sahabat, Rasulullah mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami ajaran agama atau dalam menjalankan tugas. Untuk melihat hasil pengajaran yang dilaksanakan, Rasulullah saw sering mengevaluasi hafalan para sahabat dengan cara menyuruh para sahabat membacakan ayat-ayat Alqur’an dihadapannya dengan membetulkan hafalan dan bacaan mereka yang keliru. Evaluasi juga dapat dilakukan dengan cara bertanya tentang suatu masalah hukum secara langsung kepada Rasulullah, lalu Rasulullah menjawabnya. Sebagaimana terdapat dalam riwayat berikut ini.

حدثنا قتيبة, جدثنا اسماعيل بن جعفر, عن عبدالله بن دينار, عن ابى عمر قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم, "ان من شجر شجرة لا يسقط ورقها, وإنها مثل المسلم, فحدثونى ماهى؟ فوقع الناس فى شجرة اليوادى, قال, عبدالله, ووقع فى نفسى أنها النخلة, فاستحييت. ثم قالوا, " حدثنا ماهي يارسول الله." قال," هي النخلة." (رواه البخارى(

Artinya :
Menceritakan kepada kami Qutaibat, menceritakan kepada kami Ismail ibn Ja’far, dari Abdullah Ibn Dinar, dari Ibn Umar, ia berkata, Rasulullah SAW Bersabda, “ Sesungguhnya diantara pepohonan ada satu pohon yang daunnya tidak jatuh ke tanah (secara berguguran). Pohon itu bagaikan seorang muslim. Jelaskanlah kepadaku pohon apa itu? “ orang-orang mengatakan pohon itu terdapat di pedalaman. ‘Abdullah Berkata, “ dalam benakku terbetik pikiran bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Akan tetapi aku malu menjawabnya. “ Orang-orang barkata “ beritahukanlah kepada kami, pohon apakah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab Pohon kurma.” (HR. Bukhari).


Disamping menguji pemahaman sahabat, tentang ajaran agama, Rasulullah juga di evaluasi oleh Allah melalui malaikat Jibril. Sebagaimana kisah kedatangan malaikat jibril kepada nabi Muhammad saw. Ketika beliau sedang mengejar sahabat di suatu majlis. Malaikat Jibril menguji dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pengetahuan beliau tentang iman, islam dan ihsan.

حدثنا اسماعيل بن ابراهيم اخبرنا ابوا خيان التيمي عن ابي زرعة عن ابي هريرة قال, " كان النبي صلى الله عليه وسلم يوم بارز اللناس فاتاه رجل فقال, ماالايمان ؟ قال, الايمان ان تؤمن بالله وملائكته وبلقائه ورسوله وتؤمن بالبعث. " قال, " مالاسلام؟ قال, ان تعبد الله ولاتشرك به, وتقيم الصلاة, وتؤدى الوكاة المفروضة, وتصوم رمضان. قال," مالاحسان؟ " قال, ان تعبد الله كانك تراه فإلم تكن تراه فإنه يركز قال: من الساعة؟ قال: " مالمسئول عنها اعلم من السائل, وسأخبرك عن اشراطها: اذا ولدت الامة ربها , واذا تطاول رعاة الابل البهم فى البنيات , فى خمس لا يعلمهن الاالله, ثم تلالاالنبى صلي الله عليه وسلم: " ان الله عنده علم الساعة ...... : لقمان : 34) الاية, ثم ادبر, فقال ردوه, فلم يرو شيئا فقال, " هذا جبريل جاء يعلم الناس دينهم." (رواه البخارى(

Artinya :
Menceritakan kepada kami Ismail Ibn Ibrahim, memberikan kepada kami Ibn Hayyan Al Tamimi dari Abi Zar’at dari Abi Hurairat, ia berkata “ pada suatu hari ketika nabi duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bertanya, “apakah iman itu? Jawab nabi, “iman adalah percaya kepada Allah, percaya kepada malaikatnya, dan pertemanan denganNya, para rasulNya, dan percaya kepada hari berbangkit dari kubur. Lalu laki-laki itu bertanya kembali, apakah islam itu? Jawab Nabi SAW, “ islam adalah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, mendirikan sholat, menunaikan zakat yang difardukan dan berpuasa di bulan ramadhan. Lalu laki-laki itu bertanya lagi, apa ihsan itu? Nabi SAW menjawab “ ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah engkau menyembah-Nya,jika engkau tidak melihatNya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Lalu laki-laki itu bertanya lagi “ apakah hari kiamat itu? Nabi SAW menjawab “ Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari pada orang yang bertanya, tetapi saya beritahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tiba hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika pengembala onta dan ternak lainnya berlomba-lomba membangun gedung. Dan termasuk dalam lima macam yang tidak mengetahuinya kecuali Allah, yaitu tersebut dalam ayat : “ sesungguhnya Allah ahnya pada sisinya sajalah yang mengetahui hari kiamat, dan dia pula yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim ibu, dan tidak seorangpun yang mengetahui dimanakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah maha mengetahui sedalam-dalamnya.” Kemudian pergilah orang itu. Lalu nabi menyuruh sahabat, “ antarkanlah orang itu. Akan tetapi sahabat tidak melihat bekas orang itu. Maka nabi SAW bersabda, itu adalah malaikat Jibril AS yang datang mengajarkan bagimu.” (HR. Bukhari).
Rasulullah SAW, juga menguji kemampuan saat pada waktu akan berangkat perang sebagaimana riwayat berikut.

حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير, حدثنا أبى, جدثنا عبد الله, عن نافع, عن ابى عمرقال, عرضنى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد فى القتال, وأنا ابن أربع عشرة, فام يجوني. وعرضني يوم الخندق, وانا بن خمس عشرة سنة, فأجزانى.) رواه البخاري)

Artinya :
Menceritakan kepada Muhammad ibn ‘Abdullah ibn Numair, menceritakan kepada kami ayahku, menceritakan kepada kami ‘Abdullah, dari Nafi’, dari ibn Imar berkata, “ Rasulullah SAW menguji kemampuanku berperang pada hari perang uhud, ketika aku berusia empat belas tahun, lalu beliau tidak mengizinkanku, dan beliau mengujiku kembali pada hari perang khandaq ketika aku berusia lima belas tahun, lalu beliau mengizinkanku. (HR. Muslim).


[1] Muslich Shabir. Terjemah Riyahus Shalihin, (Semarang, Karya Toha Putra. 2004) hlm. 37
[2] Nurwadjah ahmad, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan,(bandung, Penerbit Marja; 2007) hlm. 126

EVALUASI PENDIDIKAN DALAM AL QURAN


Pada dasarnya dilihat dari fungsi dan tujuannya, dapat dikatakan bahwa tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui tarap kesiapan, untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dari suatu pekerjaan, untuk mengadakan seleksi, dan untuk pengelompokan.[1]
Jika demikian adanya, merupakan suatu hal yang niscaya jika dalam Alquran terdapat petunjuk yang berkaitan dengan prinsip evaluasi, yang menuntut dikaji dengan harapan melahirkan rumusan prinsip dasar evaluasi yang berwawasan Qurani. Berkaitan dengan hal ini paling tidak akan ditemukan empat term yang bisa disepadankan dengan evaluasi, yaitu sual, ibtala, hisab, dan fitnah.
Dilihat dari sisi subjeknya, ternyata yang menjadi subjek dalam keempat term tersebut adalah Allah. Sementara itu, hal yang berhubungan dengan evaluasi dengan subyek manusia, ia tidak menggunakan keempat term tersebut, tetapi menggunakan istilah lain yang secara tersirat merujuk kepada evaluasi diri.

A.    Ayat-Ayat Evaluasi Berdasarkan Term Su’al
óOèdqàÿÏ%ur ( Nåk¨XÎ) tbqä9qä«ó¡¨B ÇËÍÈ  
Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena Sesungguhnya mereka akan ditanya...

Penjelasan:
Pada dua ayat sebelumnya Allah menggambarkan kondisi orang-orang kafir dihari pengadilan nanti. Pada saat itu mereka akan dikumpulkan bersama dengan teman sejaawatnya, kemudian akan ditunjukkan jalan menuju neraka. Setelah itu Allah akan mengajukan pertanyaan berkaitan dengan kondisi mereka yang tidak lagi melakukan tolong-menolong dengan sesama kawannya.
Dari sini terlihat bahwa relasi antara ayat ini dengan sebelum dan sesudahnya adalah bahwa walaupun mereka di akhirat kelak berada dalam satu komplek yang sama-biasanya di kehidupan dunia mereka senantiasa saling menolong antar sesamanya-maka pada saat itu mereka tidak lagi menghiraukan teman sejawatnya. Bahkan mereka akan sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dirinya.
Dengan demikian, evaluasi akhir yang akan diajukan Allah kepada manusia harus dijawab sendiri, karena memang pada saat itu tidak seseorang mungkin meminta bantuan kepada orang lain. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan dunia yang terkadang pada saat-saat yang sangat menentukan ini masih saja banyak orang yang memberikan bantuan untuk menjawab soal-soal yang diajukan, sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas nilai yang dihasilkannya pun masih dipertanyakan.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam sebuah riwayat disebutkan, “Pada akhir nanti, setiap manusia tidak akan beranjak kakinya sehingga ditanya dalam empat hal: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya, dipergunakan untuk apa, tentang harta, dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan tentang sejauhmana ia mengamalkannya” (Hr. Tirmidzi)

¢OèO £`è=t«ó¡çFs9 >ͳtBöqtƒ Ç`tã ÉOŠÏè¨Z9$# ÇÑÈ  
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Penggunaan kata tsumma menunjukan bahwa prosesi pertanyaan itu akan disampaikan setelah melalui tahapan-tahapan kehidupan. Dan hal itu akan terjadi di hari hisab, yang tentu akan menjadi penentu kebahagian dan kesengsaran seseorang.
Lafadz  £`è=t«ó¡çFs9 ini diawali dengan huruf lam at-taukid yang menunjukan bahwa pertanyaan tersebut benar-benar akan diajukan kepada setiap manusia.  `tã dalam kalimat ini bukan ‘an menunjukan sebagian, tetapi semakna dengan min, sehingga artinya adalah semua nikmat yang telah Allah berikan pada setiap individu.[2]

Penjelasan :
Ayat diatas merupakan bagian akhir dari surah at-Takatsur (yang berarti bermegah-megahan). Pada ayat pertama dari surah ini Allah menyebutkan salah satu sebab manusia lupa akan Tuhan dan kemanusiaanya. Penyebab tersebut adalah semangat bermegah-megahna, yang ketika berbuat demikian, orang baru akan sadar ketika kematian hendak menjemputnya. Kemudian pada ayat-ayat selanjutnya, Tuhan mengingatkan mereka yang bermegah-megahan, itu dengan satu kenyataan bahwa kematian itu bukan akhir dari kehidupan, tetapi merupakan awal dari kehidupan. Dan di akhir ayat Allah kembali menegaskan bahwa sikap bermegah-megahan itu haruslah dipertanggung jawabkan.
Dari sini terlihat bahwa secara tidak langsung surah at-Takatsur menyuruh setiap individu untuk mengevaluasi dirinya, apakan dengan hartanya ia sudah melupakan Tuhan atau denganya ia menjadi lebih bersyukur pada-Nya. Salah satu parameter untuk mengevaluasi sikap syukur tersebut adalah dengan mengajukan pertnyaan, apakah dalam pembelanjaan harta yang diterimanya itu telah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan Tuhan atu belum. Jika seseorang telah membelanjakan hartanya sesuai dengan aturan syariat, ia akan selamat ketika kelak diaudit oleh Allah di hari hisab.

Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ  
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Penjelasan:
Pada bagian awal dari ayat ini Allah melarang manusia agar tidak mengucapkan sesuatu yang tidak diketaui olehnya. Dalam hal ini, paling tidak terdapat tiga penafsiran yang telah disampaikan mufassir, yaitu:
1)      Larangan menjadi saksi, padahal ia tidak menyaksikannya secara langsung. Penafsiran semacam ini disampaikan ibnu abbas.
2)      Larangan mengaku pernah mendengar, pernha mendengar, melihat dan belum memahami. Penafsiran semacam ini disampaikan qatadah.
3)      Melarang berkata-kata tanpa pijakan ilmu, atau dengan kata lain melarang berkata-kata hanya bersandarkan pada prasangka.
Jika dikaitkan dengan evaluasi diri, dari ketiga penafsiran diatas, terlihat bahwa ketika seseorang mengaku telah melihat, telah mendengar dan telah memahami padahal ia belum melihat, belum pernah dengar dan belum memahami, maka secara langsung ketika terjadi evaluasi akhir, ia tidak akan mampu mempertanggung jawabkan perkataanya. Dari sini pula kita dapat mencermati bahwa kejujuran seorang murid akan mempermudah guru dalam mengevaluasi muridnya dan sekaligus akan memudahkan guru untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dimiliki muridnya. Sehingga pada akhirnya ketika terjadi evaluasi akhir, si murid tersebut akan mampu menyelesaikannya dengan baik.
Disamping itu, ayat tersebut menunjukan pula bahwa dari sekian banyak perangkat yang dimiliki manusia, pendengaran, penglihatan dan hati merupakan perangkat utama dalam melakukan evaluasi diri, sehingga pada hari hisab nanti, ketiga perangkat itulah yang akan dievaluasi Tuhan. Oleh sebab itu, sebelum tiga perangkat itu dievaluasi, manusa harus segara melakukan evaluasi terhadap ketiganya, apakah ketiga perangkat tersebut sudah digunakan sesuai dengan tujuan dan fungsi perangkat tersebut atau belum?
Ÿw ã@t«ó¡ç $¬Hxå ã@yèøÿtƒ öNèdur šcqè=t«ó¡ç ÇËÌÈ  
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.

Ayat di atas merupakan penjelasan yang berkaitan dengan pertanyaan yang akan diajukan Tuhan pada mereka yang telah menyifatkan Allah denga sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya. Dengan demikian, pertanyaan tersebut bukan menuntuk jawaban ya atau tidak, atau menuntut jawaban yang bersifat deskriptif, tetapi justru pertanyaann tersebut menuntut pertanggungjawaban dari apa yang telah mereka ucapkan.
Dari ayat-ayat diatas paling tidak dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut:
1.      Allah akan mengevaluasi manusia di hari kiamat nanti berkaitan dengan segala kenimatan yang dia berikan kepada manusia. Evaluasi ini merupakan evaluasi akhir yang akan menjadi penentu kebahagiaan dan kesengsaraan abadi.
2.      Evaluasi yang dilaksanakan bersifat menyeluruh, mencakup segala perbuatan, perkataan dan hati.
3.      Tujuan evaluasi tersebut adalah untuk mengetahui seberapa jauh manusia dapat mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan-Nya, sehingga akan diketahui mana yang layak masuk neraka. Namun demikian hal itu tidak menunjukan ketidaktahuan Allah terhadap semua apa yang telah diperbuat manusia. Hal itu dilakukan dengan alasan agar manusia tidak merasa didzalimi oleh keputusan Tuhan, sehingga dilaksanakanlah ujian akhir yang sangat menentukan itu. Kalau kita tarik dalam kontek evaluasi akhir dalam proses pendidikan, bisa jadi seorang guru sudah tahu betul kualitas seorang muridnya, tetapi agar si murid tidak merasa didzalimi, ujian akhir harus tetap dilaksanakan.
4.      Pada evaluasi akhir itu, Tuhan memberikan satu dispensasi kepada orang-orang tertentu dengan lulus tanpa mengikuti seleksi terlebih dahulu. Salah satu kelompok yang lulus tanpa mengikuti seleksi terlebih dahulu. Salah satu kelompok yang termasuk yang termasuk kategori ini adalah mereka yang mati dalam membela agama Allah (mati syahid), mereka langsung masuk sorga tanpa melalui jalur hisab (perhitungan).
5.      Karena hisab merupakan ujian akhir, konsekuensi logisnya dalam prosesi tersebut tidak dikenal istilah remedial. Oleh sebab itu, bagi mereka yang mendapatkan nilai jelek dan layak masuk neraka, walaupun mereka memohon dengan berbagai bujuk rayu, Tuhan tetap tidak akan memberikan remedial. Kalau kenyataan ini kita kaitkan dengan evaluasi pendidikan, maka dalam evaluasi akhir itu seharusnya tidak diknal istilah remedial, karena ia merupakan batas akhir untuk menilai kemampuan seseorang. Remedial hanya bisa dilaksanakan sebelum prosesi evaluasi akhir.
6.      Ayat-ayat yang menggunakan redaksi sualun jika dilihat dari objek evaluasi ternyata mengarah kepada evaluasi yang akan dilakukan terhadap orang-orang yang tidak beriman. Oleh sebab itu, kemunculan redaksi sualun lebih bertujuan menyadarkan orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan dengan penegasan bahwa hari penghisaban itu betul-betul akan terjadi.

B.     Ayat-Ayat Evaluasi Berdasakan Term Ibtala Dan Fitnah
* žcâqn=ö7çFs9 þÎû öNà6Ï9ºuqøBr& öNà6Å¡àÿRr&ur  ÆãèyJó¡tFs9ur z`ÏB z`ƒÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# `ÏB öNà6Î=ö6s% z`ÏBur šúïÏ%©!$# (#þqä.uŽõ°r& ]Œr& #ZŽÏWx. 4 bÎ)ur (#rçŽÉ9óÁs? (#qà)­Gs?ur ¨bÎ*sù šÏ9ºsŒ ô`ÏB ÏQ÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÑÏÈ  
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.

Lapadz žcâqn=ö7çFs9, semakna dengan imtahanah yang mengandung arti mengujinya.

Penjelasan:
Sebagaimana dikemukakan Al-Maraghi, tujuan dari ayat diatas adalah agar umat islam mau membentengi dirinya dengan kesabaran, yang diekspresikan dengan tidak banyak mengeluh. Sehingga, ketika suatu musibah menimpa dirinya, seperti musibah perang uhud yang dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya, hal itu tidak akan dirasa berat. Adapun bentuk cobaan berkaitan dengan harta itu adalah kewajiban mengeluarkan harta benda untuk jalan kebaikan yang akan menjadi salah satu faktor terangkatnya derajat umat islam. Sementara cobaan jiwa ialah dengan kewajiban berjihad di jalan Allah. Disamping itu, Allah menjelaskan bahwa terdapat ujian lain dalam bentuk tuduhan-tuduhan yang akan senantiasa dilontarkan orang kafir. Kemudian pada bagian akhir ayat, alla menegaskan bahwa ujian yang terlihat begitu sulit hanya akan bisa dilalui dengan sikap sabar dan takwa.
* ÏŒÎ)ur #n?tFö/$# zO¿Ïdºtö/Î) ¼çmš/u ;M»uKÎ=s3Î/ £`ßg£Js?r'sù ( tA$s% ÎoTÎ) y7è=Ïæ%y` Ĩ$¨Y=Ï9 $YB$tBÎ) ( tA$s% `ÏBur ÓÉL­ƒÍhèŒ ( tA$s% Ÿw ãA$uZtƒ Ïôgtã tûüÏJÎ=»©à9$# ÇÊËÍÈ  
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji[3] Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku"[4]. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Dalam menafsirkan ujian yang dimaksud, para mufassir berbeda pendapat ada yang mengatakan bahwa ujian tersebut diantaranya membangun ka’bah, membersihkan ka’bah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya, menghadapi Raja Namrud.
Sementara menurut Abu Zakaria, yang dimaksud ujian di situ adalah berupa anjuran melaksanakan sepuluh perbuatan sunnah, yang kesemuanya dilaksanakan secara sempurna, sehingga ia dijadikan sebagai imam bagi seluruh manusia. Kesepuluh hal tersebut adalah:
a.       Berkumur-kumur
b.      Memotong jenggot
c.       Bersiwak
d.      Merapikan rambut
e.       Memasukan air ke dalam hidung
f.       Memotong kuku
g.      Berkhitan
h.      Mencabut bulu ketiak
i.        Mencukur bulu kemaluan
j.        Istinja[5]
Dari redaksi ayat tersebut terlihat bahwa salah satu syarat seseorang menjadi imam manusia adalah keberhasilannya dalam menempuh ujian Tuhan, sebagaimana halnya ibrahim yang baru diangkat menjadi imam manusia ketika ia telah mampu menyelesaikan seluruh ujian Tuhan.
öNä3¯Ruqè=ö7uZs9ur 4Ó®Lym zOn=÷ètR tûïÏÎg»yfßJø9$# óOä3ZÏB tûïÎŽÉ9»¢Á9$#ur (#uqè=ö7tRur ö/ä.u$t6÷zr& ÇÌÊÈ  
Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

Menurut Wahbah Zuhaili, ujian yang dimaksud berupa perintah dan larangan, diantaranya berjihad dijalan Allah sehingga Dia akan mengetahui dengan benar apa ia taa menjalankan perintah Allah atau justru maksiat[6]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ayat di atas merupakan penjelasan yang berkaitan dengan tujuan evaluasi. Dalam hal ini, salah satu tujuan yang hendak dicapai dari evaluasi itu adalah untuk mengetahui dan membedakan orang yang mempunyai semangat jihad dan bersabar, dengan mereka yang bersikap tergesa-gesa yang dengannya ia menjadi terjebak dengan kehidupan duniawi. Dengan terlihatnya dua kelompok ini, maka akan diketahui pula kebaikan dan keburukannya.
@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqyJø9$# 3 Nä.qè=ö7tRur Îhޤ³9$$Î/ ÎŽösƒø:$#ur ZpuZ÷FÏù ( $uZøŠs9Î)ur tbqãèy_öè? ÇÌÎÈ  
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.
Ayat diatas diawali yang menunjukan sunnatullah yang akan mengenai setiap manusia akan mengalami kematian yang dianggap sebagai ujian terberat bagi manusia. Disamping itu, Allah akan menguji manusia dengan kebaikan dan kepahitan. Hal ini menunjukan bahwa ujian atau evaluasi dari Tuhan tidak saja dengan hal-hal yang terasa pahit, tetapi juga dengan kesenangan hidup.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat beberapa variasi evaluasi yang dilakukan Tuhan terhadap manusia. Secara tidak langsung, kenyataan ini menuntut seorang pendidik agar dalam melakukan evaluasi tidak terpaku hanya pada satu cara, yang nantinya akan sulit menentukan kualitas murid-muridnya.
Sementara itu, pada bagian akhir ayat dijelaskan bahwa setiap manusia itu akan kembali kepada Tuhannya. Pernyataan ini menunjukan bahwa seberat apapun ujian yang diberikan Tuhan padanya, naun jika semua itu dihadapi dengan kesabaran, seraya menggantungkan harapan kepada Allah, maka ia akan berhasil menghadapinya dan ketika ia kembali kepada Tuhannya, ia pun akan  mudah dalam menjawab evaluasi akhir yang akan diajukan padanya.
 Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âƒÍyèø9$# âqàÿtóø9$# ÇËÈ  
yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Penjelasan :
Bahwa pada bagian awal ayat ini Allah menjelaskan bahwa kematian dan kehidupan itu bukan ditentukan manusia, tetapi dialah yang telah menetapkanny. Dalam hal ini, terkadang manusia lupa sehingga menganggap kehidupan sebagai hal positif dan kematian sebagai hal negatif. Padahal keduanya itu tidak bisa dikatakan negatif atau positif karena yang menjadikannya adalah manusia. Oleh sebab itu pada redaksi selanjutnya Allah menjelaskan bahwa kematian dan kehidupan itu hanyalah ujian untuk mengetahui orang yang paling ihlas dalam beribadah kepada-Nya. Dari sini terlihat bahwa tujaun evaluasi itu adalah untuk mengetahui siapa yang lebih taat dan lebih baik amal perbuatannya.
Nä3¯Ruqè=ö7oYs9ur &äóÓy´Î/ z`ÏiB Å$öqsƒø:$# Æíqàfø9$#ur <Èø)tRur z`ÏiB ÉAºuqøBF{$# ħàÿRF{$#ur ÏNºtyJ¨W9$#ur 3 ̍Ïe±o0ur šúïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÎÈ   tûïÏ%©!$# !#sŒÎ) Nßg÷Fu;»|¹r& ×pt7ŠÅÁB (#þqä9$s% $¯RÎ) ¬! !$¯RÎ)ur Ïmøs9Î) tbqãèÅ_ºu ÇÊÎÏÈ  
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[7].

Ayat diatas bersentuhan dengan unsur-unsur pembentuk manusia, yakni sisi-sisi batin. Dalam hal ini, batin sering merasa takut, kelaparan takut kekurangan harta, takut mati, atau yang lainnya. Dilihat dari persperktif munasabah, pada ayat sebelumnya 153-154 Allah menjelaskan tentang pentingnya sabar dan shalat sebagai penolong. Oleh sebab itu, agar manusa dapar mampu dan berhasil melewati ujian semacam itu, ia harus memperkokoh dirinya dengan shalat dan kesabaran.
!$uZø9tRr&ur y7øs9Î) |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ $]%Ïd|ÁãB $yJÏj9 šú÷üt/ Ïm÷ƒytƒ z`ÏB É=»tGÅ6ø9$# $·YÏJøygãBur Ïmøn=tã ( Nà6÷n$$sù OßgoY÷t/ !$yJÎ/ tAtRr& ª!$# ( Ÿwur ôìÎ6®Ks? öNèduä!#uq÷dr& $£Jtã x8uä!%y` z`ÏB Èd,ysø9$# 4 9e@ä3Ï9 $oYù=yèy_ öNä3ZÏB Zptã÷ŽÅ° %[`$yg÷YÏBur 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# öNà6n=yèyfs9 Zp¨Bé& ZoyÏnºur `Å3»s9ur öNä.uqè=ö7uŠÏj9 Îû !$tB öNä38s?#uä ( (#qà)Î7tFó$$sù ÏNºuŽöyø9$# 4 n<Î) «!$# öNà6ãèÅ_ötB $YèÏJy_ Nä3ã¥Îm6t^ãŠsù $yJÎ/ óOçGYä. ÏmŠÏù tbqàÿÎ=tFøƒrB ÇÍÑÈ  
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[8] terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu[9], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Penjelasan:
Pada bagian awal dari ayat ini Allah menjelaskan tujuan kehadiran al-quran, yakni untuk membenarkan apa yang ada dalam kitab-kitab terdahulu. Dalam hal ini, kata membenarkan mengandung arti bahwa di satu sisi, karena kitab terdahulu itu bersumber dari Allah, maka didalamnya masih banyak hal-hal yang sesuai, namun tidak menutup kemungkinan juga terdapat penyimpangan-penyimpangan yang telah ditentukan manusia tehadapnya, sehingga ia memerlukan kitab yang meluruskannya. Kedua, penurunan Alquran itu bertujuan sebagai penyempurna ajaran kitab terdahulu. Dalam hal ini, syariat yang Allah turunkan pada umat terdahulu dianggap masih kurang, karena memang ia bersifat lokal, sehingga kalau Tuhan tidak akan mengutus lagi rasul, konsekuensi loginya Dia harus menurunkan sebuah kita yang akan menjadi petunjuk sempurna bagi seluruh umat manusia.[10]
Disamping itu, Allah memerintah mereka untuk menghukumi apa yang mereka perselisihkan itu dengan substansi ajaran dari semua kitab suci yang pernah diturunkan-Nya dan dia melarang manusia mengikuti keegoisannya.
Pernyataan “walau sya Allahu laja’alakum ummatan wahidah” merupakan penjelasan sebab-sebab berbeda-bedanya syariat. Dalam hal ini, dala kalimat tersebut Allah meletakkan illat usy-syarti pada tempat syarat untuk menjelaskan kehadiran makna balasan, yakni kalimat “walakil-liyabluwakum” yang bermakna untuk menguji kamu sekalian dari nikmat-nikmat yang kamu telah berikan kepada kamu sekalian.[11]
Sementara menurut Al-Maraghi, pernyataan tersebut mengandung arti bahwa jika Allah menghendaki menciptakan umat manusia dengan watak yang sama, ahlak yang sama dan taraf kehidupan yang sama, sehingga manusia yang berada di seluruh muka bumi sejak adanya gingga akhir zaman akan bisa diatur sama halnya dengan jenis-jenis mahluk lain yang wataknya tetap berada pada satu tahap tertentu. Akan tetapi, karena Tuhan telah memuliakan manusia, tentu ia tidak akan memosisikannya seperti mahluk lain, yang konsekuensi logisnya tidaklah tepat kiranya jika hanya terdapat satu syarat saja yang berlaku untuk semua tempat dan zaman.
Berkaitan dengan hal tersebut, Al-Maraghi menganalogikan periodisasi manusia itu dengan perkembangan manusia, yakni masyarakat yang tumbuh berkembang pada awal-awal kehidupan manusia disamakan dengan periode anak-anak, sehingga syariat-syariatnya lebih berkaitan dengan hal-hal yang bersifat material. Kemudian pada periode kedua yang disejajarkan dengan masa akil baligh, maka syariat itu banyak berkaitan dengan perasaan dan naluri kejiwaan. Dan ketika manusia telah mencapai puncak kedewasaanya, maka Allah mengakhiri syariat-nya dengan agam islam.
Pada bagian akhir ayat, Allah menyeru sekalian manusia untuk berlomba-lomba pada kebaikan dengan menggunakan kata al-khairat, sehingga mengimplikasikan makna bahwa kebaikaan bukan dalam ukuran manusia, tetapi apa yang dianjurkan oleh Allah walaupun secara dzahir tampak tidak baik. Dari pengertian ini dapat dicermati bahwa orang-orang yahudi yang telah terjangkiti penyakit baghyu pada Muhammad akan melihat bahwa diutusnya Muhammad bukanlah merupakan kebaikan, yang oleh karenanya Allah menyeru mereka agar berlomba mengikuti yang khair dengan mengakui kerasulan Muhammad dan menjalankan amal ibadah berdasarkan apa yang dicontohkannya sekaligus meninggalkan dorongan hawa nafsunya.
Dari penggunaan lafadz ibtala terlihat beberapa pokok permasalahan, diantaranya:
a.       Allah akan mengevaluasi manusia dalam bentuk proses
b.      Evaluasi yang dimaksud dapat berupa ujian psikis atau fisik
c.       Evaluasi bertujuan untuk memberi motivasi bagi manusia agar senantias berbuat kebajikan.
d.      Evaluasi memberikan gambaran tentang kedewasaan seseorang.
e.       Evaluasi seharusnya dilakukan terlebih dahulu oleh diri sendiri.
f.       Evaluasi yang diberikan Allah itu tidak dikhususkan kepada kelompok tertentu, tetapi diarahkan pada setiap manusia.
g.      Evaluasi tersebut terjadi di kehidupan dunia yang salah satu tujuannya untuk mengelompokkan manusia. Sebab, dengan adanya ibtala dan fitnah dari persepektif keyakinan akan terlihat adanya beberapa kelompok manusia.


C.    Ayat-Ayat Evaluasi Berdasarkan Term Hisab
Dari sekian banyak kata-kata hisab dalam Alquran, terdapat beberapa ayat yang berkaitan dengan evaluasi Tuhan yaitu:
y7Í´¯»s9'ré& óOßgs9 Ò=ŠÅÁtR $£JÏiB (#qç7|¡x. 4 ª!$#ur ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇËÉËÈ  
mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Ayat diatas merupakan bagian akhir dari pembicaraan orang-orang yang melaksanakan haji dengan memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan. Oleh sebab itu, kata ulaika, dirujukan kepada mereka yang akan mendapatkan ganjaran dari pekerjaannya, termasuk pekerjaan haji yang sesuai dengan peraturan Tuhan. Kemudian diakhir ayat disebutkan bahwa hisab Allah sangat cepat.
¨bÎ) šúïÏe$!$# yYÏã «!$# ÞO»n=óM}$# 3 $tBur y#n=tF÷z$# šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) .`ÏB Ï÷èt/ $tB ãNèduä!%y` ÞOù=Ïèø9$# $Jøót/ óOßgoY÷t/ 3 `tBur öàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$#  cÎ*sù ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÊÒÈ  
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[12] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Pada bagian awal ayat diatas, Allah menegaskan bahwa agama yang diridhainya pasca diutusnya Muhammad hanyalah islam. Lebih lanjut Allah menjelaskan bahwa perselisihan yang terjadi dalam komunita ahli kitab itu ternyata setelah datang penjelasan. Hal ini menunjukan bahwa penjelasan yang datang itu dianggap tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya, sehingga dalam hatinya muncul rasa dengki yang pada akhirnya menjadikannya menolak pada yang dibawa Muhammad.
¨bÎ)ur ô`ÏB È@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# `yJs9 ß`ÏB÷sム«!$$Î/ !$tBur tAÌRé& öNä3ös9Î) !$tBur tAÌRé& öNÍköŽs9Î) tûüÏèϱ»yz ¬! Ÿw tbrçŽtIô±o ÏM»tƒ$t«Î/ «!$# $YYyJrO ¸xŠÎ=s% 3 šÍ´¯»s9'ré& öNßgs9 öNèdãô_r& yYÏã óOÎgÎn/u 3 žcÎ) ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Åsø9$# ÇÊÒÒÈ    
Dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya.

Penjelasan:
Pada ayat di atas Allah menjelaskan bahwa di antara komunitas ahli kitab itu terdapat ahli kitab itu terdapat orang yang beriman kepada Alquran seraya tunduk kepada Allah. Sehingga mereka tidak memperjual belikan ayat Allah dengan harga murah. Kemudian ia menunjukan bahwa setiap manusia, termasuk didalamnya mereka yang telah menganut suatu keyakinan tertentu, ia masih memiliki potensi untuk berubah, yang oleh karenanya ia masih mungkin menerima kebenaran Alquran. Kenyataan tersebut jika dikaitkan dengan pendidikan, maka sekeras apapun sikap anak didik, ia memiliki potensi untuk berubah, sehingga pendidikan merupakan satu hal yang niscaya untuk dilakukan secara kontinyu.

D.    Evaluasi oleh Manusia
Disamping ayat-ayat yang menggunakan istilah-istilah diatas, terdapat pula ayat-ayat yang secara tersirat menunjukan evaluasi, termasuk didalamnya evaluasi yang dilakukan manusia, antara lain:
ó=ydøŒ$# 4n<Î) tböqtãöÏù ¼çm¯RÎ) 4ÓxösÛ ÇËÍÈ   tA$s% Éb>u ÷yuŽõ°$# Í< Íô|¹ ÇËÎÈ   ÷ŽÅc£our þÍ< ̍øBr& ÇËÏÈ   ö@è=ôm$#ur Zoyø)ãã `ÏiB ÎT$|¡Ïj9 ÇËÐÈ   (#qßgs)øÿtƒ Í<öqs% ÇËÑÈ   @yèô_$#ur Ík< #\ƒÎur ô`ÏiB Í?÷dr& ÇËÒÈ   tbr㍻yd ÓŁr& ÇÌÉÈ   ÷Šßô©$# ÿ¾ÏmÎ/ Íør& ÇÌÊÈ   çmø.ÎŽõ°r&ur þÎû ̍øBr& ÇÌËÈ   ös1 y7ysÎm7|¡èS #ZŽÏVx. ÇÌÌÈ   x8tä.õtRur #·ŽÏWx. ÇÌÍÈ   y7¨RÎ) |MZä. $uZÎ/ #ZŽÅÁt/ ÇÌÎÈ  
Pergilah kepada Fir'aun; Sesungguhnya ia telah melampaui batas". Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku[915], Dan mudahkanlah untukku urusanku, Dan lepaskanlah kekakuan dari Lidahku. supaya mereka mengerti perkataanku, Dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, Teguhkanlah dengan Dia kekuatanku, Dan jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku, Supaya Kami banyak bertasbih kepada Engkau, Dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami".

Penjelasan:
Pada saat musa pergi dari mesi karena takut terhadap hukuman yang akan ditimpakan Fir’aun, hingga ia akhirnya bertemu dengan anak Syuaib dan tinggal bersamanya selama sepuluh thun, sehingga dalam hatinya kembali muncul dan rasa rindu kembali ke mesir. Setelah memikirkannya secara matang, akhirnya ia memutuskan untuk kembali dengan membawa istrinya. Di tengah perjalanan pada saat mencari api, disitulah musa diangkat menjadi rasul dan disuruh pergi kepada Fir’aun guna mengingatkan kezalimannya. Nah, pada saat mendapat perintah itu dia tidak segera menyanggupinya. Ia terlebih dahulu mengevaluasi kejadian-kejadian yang pernah dilaluinya. Setelah itu barulah musa menyatakan beberapa pernyataan yang termaktub pada ayat 24-35 yang intinya:
a.       Musa memohon agar Allah melapangkan dadanya. Hal ini dapat dimengerti bahwa musa adalah sebagai manusia.
b.      Musa meminta agar menjadikan Harun sebagai wazir, hal ini berdasar evaluasi Musa bahwa perjuangan melawan tiran tidak hanya cukup dengan presure. Tapi perlu juga dengan diplomasi. Karakter diplomat ini tidak dimilikinya, ia dimiliki saudaranya, Harun. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa menurut hasil evaluasi Musa, perjuangan membebaskan kaum bani Israil itu hanya akan berhasil ketika terdapat dua unsur yang saling menopang secara sinergis, yakni unsur represif dan unsur diplomatis.
c.       Menurut pengamatan Musa, dengan bersatu padunya antara dua kekuatan, maka akan lebih efektif untuk mensucikan Allah dan mengingat-Nya.
Dari pemaparan di atas terlihat bahwa sebelum melakukan perjuangan membebaskan Bani Israil, terlebih dahulu ia melakukan evaluasi.  Ia tidak serta merta merespon perintah Tuhan untuk mengingatkan Fir’aun, terlebih dahulu melakukan swat analisis. Ia mencoba melihat kekuatan dan kekurangan pada dirinya sehingga ia mampu melihat peluang dan tantangan yang dihadapinya. Dengan begitu ia mampu meminimalisir tantangan dan membuka peluang selebar-lebarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa evaluasi itu dilakukan pertama kali diawal kegiatan. Jika hal ini dikaitkan dengan pendidikan, maka akan memberi kesan bahwa harus ada evaluasi awal, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai pijakan untuk menentukan langkah-langkah yang harus ditempuh, sehingga diharapkan dapat mempermudah proses kegiatan belajar mengajar.
ôs)s9 ãNà2uŽ|ÇtR ª!$# Îû z`ÏÛ#uqtB ;ouŽÏWŸ2   tPöqtƒur Aû÷üuZãm   øŒÎ) öNà6÷Gt6yfôãr& öNà6è?uŽøYx. öNn=sù Ç`øóè? öNà6Ztã $\«øx© ôMs%$|Êur ãNà6øn=tæ ÙßöF{$# $yJÎ/ ôMt6ãmu §NèO NçGøŠ©9ur šúï̍Î/ôB ÇËÎÈ  
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.
Sebagaimana yang diriwayatkan Baihaqi, bahwa ketika terjadi perang Hunain, salah seorang du antara kaum muslimin berkata “pada hari ini kita tidak akan dikalahkan karena jumlah pasukan yang sedikit”. Dan pada hari itu, balatentara kaum muslimin berjumlah 12000 personil. Sebagai respon terhadap pernyataan tersebut, maka Allah menurunkan ayat ini.[13]            Secara tersirat, ayat di atas merupakan peringatan Allah kepada kaum muslimin agar mengevaluasi terhadap jumlah komunitasnya. Sebab, jika jumlah yang besar tanpa dievaluasi terlebih dahulu, malah akan menjadikan orang berbangga dengan jumlah tanpa memperhatikan kualitas. Kenyataan ini bisa dicermati dari latar historis turunnya ayat ini. menurut catatan sejarah, ayat ini turun setelah peristiwa futuh mekah yang pada saat itu masyarakat Makkah berbondong-bondong menyatakan masuk islam. Kemudia setelah itu berangkatlah pasukan kaum muslimin menuju hunnain. Pasukan yang pada awalnya sedikititu semakin bertambah banyak, lebih dari dua kali lipat jumlah pasukan sebelumnya. Padahal jumlah tersebut terlebih dahulu tidak dievaluasi; apakah mereka benar-benar ingin berjihad di jalan Allah atau ada unsur-unsur lainnya. Akibatnya, walaupun jumlah pasukan kaum muslimin banyak, ternyata pada awal pertempuran mereka mengalami kekalahan.
            Jika gambaran diatas ditarik pada masalah pendidikan, maka dapat memberi kesan bahwa jumlah siswa yang banyak belum tentu mencerminkan kualitas sekolah itu. Sebab, kualitas sekolah itu dapat dikatakan baik, salah satu faktor yang menentukannya adalah sistem evaluasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kuantitas semakin banyak, kemungkinan besar sangat sulit lagi utnuk mengukur/ mengevaluasi kualitas yang dimilikinya.
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£s% 7tóÏ9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ            
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat atas diawali dengan seruan terhadap umat beriman, sehingga dapat dikatakan bahwa ayat tersebut merupakan peringatan terhadap komunitas kaum beriman pada satu karakter yang harus dimilikinya. Biasanya, ketika satu ayat diawali dengan seruan terhadap orang beriman, maka akan terdapat beberapa perintah atau larangan, dalam kontek ayat ini, perintah yang pertama dikemukakan adalah perintah untuk bertakwa kepada Allah. Bahkan perintah takwa ini dalam ayat tersebut sampai diulangi. Dalam hal ini, bertakwa kepada Allah pada redaksi pertama dikaitkan dengan suatu sikap yang harus dimiliki manusia beriman agar senantiasa melakukan evaluasi terhadap perbuatannya yang telah lalu, yang akan menjadi dasar dalam melakukan perbuatan selanjutnya. Sementara perintah taqwa yang kedua dikaitkan dengan satu kenyataan bahwa Allah senantiasa Maha Mengetahui apa yang dikerjakan manusia.
            Berkaitan dengan evaluasi terhadap apa yang dikerjakan terdapat beberaoa waktu evaluasi: pertama, evaluasi harian yang bisa dilakukan pada selesai shalat atau lainnya.
Kedua, evaluasi mingguan. Evaluasi ini dilaksanakan pada setiap jumat. Ketiga, evaluasi tahunan. Evaluasi ini dilakukan pada bulan ramadhan.


[1] Wayan Nurkancana, Evaluasi Pendidikan (surabaya: Usaha Nasional, 1996), hlm.2
[2] Fayruz Zabidi, Tanwir al-Miqbas (Beirut: Dar al-Fikr, 1991) hlm. 758
[3] Ujian terhadap Nabi Ibrahim a.s. diantaranya: membangun Ka'bah, membersihkan ka'bah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail, menghadapi raja Namrudz dan lain-lain.
[4] Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s., karena banyak di antara Rasul-rasul itu adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s.
[5] Abu Zakaria, ma’ani al-Quran (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), hlm. 76
[6] Wahbah Zuhaili, Tafisr Al-Munir, Vol. XII (Beirut: Dar-al-Fikr. 2003) hlm 123
[7] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
[8] Maksudnya: Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam Kitab-Kitab sebelumnya.
[9] Maksudnya: umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya.
[10] Muhammad Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan , vol V (Beirut: Muassasat al-Alami li al-Mathbua’at. 1991) hlm.356
[11] Ash-shabuni, Shafwah At-Tafsir, vol. I (Beirut: Dar al-Fikr. 1996) hlm.226
[12] Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.
[13] Wahbah, op.cit vol. V hlm. 505